perubahan iklim

Maraton di Tengah Perubahan Iklim: Tantangan Panas Ekstrem bagi Pelari

Fenomena maraton semakin populer di Indonesia maupun dunia. Dari ajang lari massal di kota-kota besar sampai event internasional berskala jutaan peserta, olahraga lari kini menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat. Namun di balik meningkatnya popularitas maraton, muncul tantangan baru yang tidak bisa diabaikan: perubahan iklim dan suhu bumi yang semakin panas. Kondisi ini mulai memengaruhi keselamatan, performa, sampai keberlangsungan berbagai event maraton di seluruh dunia.

Indonesia sendiri mengalami peningkatan signifikan dalam paparan panas ekstrem. Desember 2024–Februari 2025, sekitar 48,6 juta penduduk Indonesia terpapar panas ekstrem, sementara Jakarta tercatat sebagai salah satu kota dengan durasi panas tinggi terpanjang di dunia. 

Baca Juga: Dampak Cuaca Ekstrem terhadap Lingkungan dan Cara Menghadapinya

 

Ketika Maraton Berhadapan dengan Krisis Iklim

Bumi Semakin Panas, Risiko bagi Atlet Meningkat

Beberapa tahun terakhir, dunia mencapai rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah. Tahun 2024 disebut sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat oleh World Meteorological Organization (WMO), dipicu oleh peningkatan emisi gas rumah kaca dan fenomena El Nino. Gelombang panas kini tidak hanya lebih sering terjadi, tetapi juga lebih lama dan lebih intens. Kondisi ini berdampak langsung pada olahraga outdoor seperti maraton, yang mengharuskan tubuh bekerja keras dalam durasi panjang.

Di Indonesia, Climate Central melaporkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan jumlah hari paparan panas ekstrem tertinggi di dunia, dengan lebih dari 30 hari dalam setahun di banyak wilayah. Jakarta bahkan menempati posisi ke-4 kota besar dengan durasi panas ekstrem terpanjang setelah Lagos, Tamil Nadu, dan Manila.

 

Mengapa Pelari Maraton Sangat Rentan?

Saat berlari, tubuh manusia menghasilkan panas internal yang tinggi. Dalam kondisi normal, tubuh dapat menyeimbangkan suhu melalui keringat. Namun ketika suhu udara tinggi dan kelembaban meningkat, mekanisme pendinginan ini menjadi tidak efektif.

Kondisi ini disebut dengan heat stress, dimana keadaan tubuh tidak mampu membuang panas secara optimal. Akibatnya, suhu inti tubuh meningkat dan berisiko menyebabkan gangguan kesehatan serius, terutama pada pelari jarak jauh yang beraktivitas dalam durasi panjang.

 

Jakarta dan Tantangan Maraton di Kota Tropis

Sebagai kota tropis dengan tingkat kelembaban tinggi, Jakarta menghadapi tantangan besar dalam penyelenggaraan maraton. Peningkatan suhu dan hari panas ekstrem membuat risiko kesehatan peserta semakin tinggi. Jakarta termasuk salah satu kota dengan durasi panas ekstrem terpanjang di dunia. Kondisi ini menuntut penyelenggara untuk lebih serius dalam mengelola risiko, mulai dari pemilihan waktu lomba hingga kesiapan fasilitas medis di lapangan.

 

Risiko Kesehatan Saat Maraton di Cuaca Panas

Dehidrasi

Saat berlari, tubuh kehilangan cairan melalui keringat dalam jumlah besar. Jika tidak diimbangi asupan cairan yang cukup, pelari dapat mengalami penurunan performa hingga gangguan organ.

Heat Exhaustion

Kondisi ini terjadi ketika tubuh mulai kelelahan akibat paparan panas berlebih. Gejala yang umum meliputi pusing, lemas, mual, dan kram otot. 

Heatstroke

Ini merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika suhu tubuh meningkat drastis dan mekanisme pendinginan gagal. Heatstroke dapat menyebabkan kerusakan organ serius bahkan kematian jika tidak segera ditangani.

Gangguan Jantung dan Pernapasan

Cuaca panas ekstrem juga meningkatkan risiko bagi pelari dengan kondisi kesehatan tertentu, terutama yang memiliki riwayat jantung atau gangguan pernapasan.

maraton

 

Faktor Lingkungan yang Perlu Diperhatikan Sebelum Maraton

Suhu Udara

Pelari perlu memantau prakiraan cuaca sebelum lomba untuk menentukan strategi pacing dan hidrasi.

Kelembapan

Kelembapan tinggi membuat tubuh lebih sulit mendinginkan diri karena keringat tidak mudah menguap, sehingga risiko heat stress meningkat.

Indeks UV

Paparan sinar matahari yang tinggi meningkatkan risiko kerusakan kulit dan dehidrasi. Di Indonesia, indeks UV sering mencapai level berbahaya bagi kesehatan.

Kualitas Udara

Polusi udara dapat memperburuk kapasitas paru-paru dan menurunkan performa pelari, terutama di kota besar.

 

Apa yang Harus Dilakukan Pelari Sebelum dan Saat Maraton?

Persiapan Sebelum Hari Lomba

Persiapan sebelum hari marathon, peserta perlu latihan adaptasi dengan cuaca panas (heat training), tidur yang cukup, dan menjaga asupan cairan dan elektrolit. 

Strategi Saat Berlari

Saat berlari peserta harus menyesuaikan pace dengan kondisi cuaca, tidak memaksakan target waktu, dan memanfaatkan water station dengan optimal. 

Kenali Sinyal Bahaya dari Tubuh

Pelari harus peka terhadap tanda-tanda seperti pusing, mual, atau kram. Jika gejala memburuk, segera perlambat atau berhenti dan cari bantuan medis.

 

Tanggung Jawab Penyelenggara di Era Perubahan Iklim

Evaluasi Risiko Cuaca

Penyelenggara perlu menggunakan data meteorologi dan sistem peringatan dini untuk mengantisipasi gelombang panas.

Penyediaan Fasilitas Keselamatan

Beberapa fasilitas yang perlu dipersiapkan antara lain seperti water station yang memadai, cooling station di beberapa titik, sampai dengan tim medis yang siaga sepanjang rute. 

Adaptasi Event Olahraga

Kemudian perlu memerhatikan penyesuaian waktu start (lebih pagi), penggunaan teknologi pemantauan cuaca real-time, penerapan standar keselamatan yang ketat.

 

Maraton dan Masa Depan Olahraga di Tengah Perubahan Iklim

Perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan realitas yang sudah terjadi saat ini. Indonesia menjadi salah satu negara dengan peningkatan signifikan paparan panas ekstrem akibat krisis iklim. Event olahraga seperti maraton perlu beradaptasi agar tetap aman dan berkelanjutan. Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama, bahkan lebih penting daripada kompetisi itu sendiri. Popularitas maraton yang terus meningkat harus diimbangi dengan kesadaran terhadap risiko lingkungan. Di era bumi yang semakin panas, keberhasilan sebuah maraton tidak hanya diukur dari siapa yang mencapai garis finis tercepat, tetapi juga dari bagaimana event tersebut menjaga keselamatan setiap pelari.

 

Tentang PT Wastec International

Berdiri sejak tahun 2004, PT Wastec International memiliki fasilitas pengolahan limbah di Cilegon, Semarang, Tuban, dan Makassar yang telah dilengkapi teknologi modern untuk menangani berbagai jenis limbah B3 maupun limbah medis. Dengan layanan yang terintegrasi, PT Wastec International menghadirkan solusi end-to-end mulai dari pengangkutan, pengumpulan, pengolahan, sampai pemanfaatan limbah. PT Wastec International berkomitmen untuk mendukung kepatuhan terhadap regulasi sekaligus melindungi lingkungan melalui pengelolaan limbah yang aman, efektif, dan bertanggung jawab.

Picture of Author

Author